KABAR MADURA | Berawal dari bengkel sederhana dengan modal terbatas, builder asal Bangkalan, Ajies Sabara, sukses membawa karya modifikasi sepeda motornya menembus panggung bergengsi Kustomfest 2026 – High Octane. Motor berjuluk Pelor Angin berbasis Honda CBR150R itu mencuri perhatian juri internasional dan meraih penghargaan Best in Show.
Pencapaian tersebut menjadi babak krusial dalam perjalanan Ajies nan telah menekuni bumi modifikasi sejak 2008. Namun, keberhasilan itu tidak diraih dalam waktu singkat. Ada proses panjang, keterbatasan pendanaan, serta support dari sponsor utama nan membikin proyek itu akhirnya bisa dituntaskan.
Motor berkonsep protaker alias chopper itu mengusung pendapat balapan dalam lingkaran nan diadaptasi ke arena kontes custom bike. Melalui Pelor Angin, Ajies berupaya menghadirkan karakter kreasi nan berbeda dengan mengandalkan perincian pengerjaan dan perpaduan material nan tidak biasa.
Ajies, builder sekaligus pemilik FR 32 Bangkalan, mengaku tidak pernah menyangka karya nan digarap berbareng dua saudaranya itu bisa meraih penghargaan tertinggi di arena tersebut. Terlebih, Kustomfest 2026 merupakan pengalaman pertamanya mengikuti kejuaraan tersebut setelah melewati tahapan seleksi.
“Mendapatkan gelar Best in Show ini sangat sulit. Nggak nyangka, intinya nggak nyangka. Kami berkecimpung di bumi modifikasi ini sejak tahun 2008. Puncak kejayaan kami sebelumnya ada di tahun 2015 saat bisa berangkat ke Thailand, namun saat itu tetap dalam ranah modifikasi di bawahnya custom,” ujarnya, Selasa (13/10/2026).
Semula, sebagai pendatang baru di Kustomfest, Ajies hanya berambisi bisa menjadi bagian dari peserta. Baginya, lolos seleksi saja sudah menjadi pencapaian tersendiri. Namun, hasil penjurian justru membawa Pelor Angin melampaui sasaran awal.
Keistimewaan pencapaian itu semakin terasa lantaran Kustomfest menghadirkan juri dari beragam negara, di antaranya Jepang, Malaysia, Thailand, Jerman, dan Amerika Serikat. Ajies menyebut, karyanya mendapat apresiasi berkah detail, kebersihan pengerjaan, serta penggunaan material kayu pada bagian tangki.
Menurut Ajies, salah seorang juri asal Jepang apalagi mengaku belum pernah menjumpai motor dengan perincian dan kerapian seperti Pelor Angin selama berkeliling dunia. Pujian tersebut menjadi pengakuan krusial bagi tim mini nan mengerjakan motor itu secara berdikari di bengkel mereka.
Perjalanan Pelor Angin sendiri dimulai pada 2018. Namun, proses pengerjaannya sempat tersendat akibat pandemi Covid-19 dan persoalan pendanaan. Keterbatasan modal membikin Ajies kesulitan melanjutkan proyek nan memerlukan pengerjaan unik dengan biaya tidak sedikit tersebut.
Titik kembali datang ketika Abah Muhaimin memandang potensi motor itu. Setelah berjamu ke rumah Ajies dan menyaksikan langsung proyek nan belum rampung, pemilik Sinjay itu memberikan support sebagai sponsor utama agar pengerjaan Pelor Angin bisa dilanjutkan.
Dukungan itu menjadi aspek krusial bagi Ajies untuk menuntaskan motor nan telah lama dirancangnya. Tanpa sokongan pendanaan, proyek tersebut berisiko kembali tertunda. Padahal, proses modifikasi memerlukan ketelitian, material khusus, serta pengerjaan nan tidak sederhana.
Ajies menyebut, support Abah Muhaimin sebagai salah satu bagian krusial dari keberhasilan Pelor Angin tampil di Kustomfest 2026. Baginya, support itu bukan sekadar membantu menyelesaikan sebuah motor, tetapi juga membuka jalan agar karya nan bertahun-tahun digarap di bengkel sederhana bisa diperkenalkan kepada organisasi custom nan lebih luas.
Dari sisi desain, nama Pelor Angin lahir dari konsep senapan angin. Ajies menerjemahkan corak dan material nan identik dengan barang tersebut ke dalam kreasi sepeda motor, terutama melalui perpaduan unsur logam dan kayu.
Penggunaan kayu pada bagian tangki menjadi salah satu karakter paling menonjol. Sementara itu, bagian logam dikerjakan menggunakan baja nan memerlukan proses khusus. Kombinasi material tersebut membikin pengerjaan motor menyantap waktu panjang sekaligus menambah biaya produksi.
Ajies menegaskan, kreasi Pelor Angin merupakan gagasannya sendiri. Dia memilih menggambar konsep secara manual di atas kertas, berbekal latar belakangnya sebagai pembimbing seni di SMK Al Hikam Kemayoran.
Orisinalitas menjadi prinsip nan dipegang Ajies dalam bumi custom. Menurutnya, sebuah karya kudu mempunyai konsep dan identitas sendiri, bukan sekadar meniru modifikasi nan sudah ada.
“Kalau ide, konsep saya sendiri. Kalau mengopi, tidak bakal dinilai sama sekali. Jadi kudu betul-betul karya sendiri, konsep sendiri, dan detail,” tuturnya.
Dalam proses pengerjaannya, Ajies tidak bekerja sendirian. Dia melibatkan dua saudaranya nan mempunyai skill berbeda. Salah satunya menangani pengecatan, sedangkan nan lain mengerjakan bagian fiber. Sementara itu, Ajies berfokus pada rangka, besi, dan konstruksi.
Pembagian peran tersebut membikin mereka bisa mengerjakan motor dengan mengandalkan skill masing-masing. Dengan kerja berbareng itu pula, rancangan nan sempat tersendat persoalan biaya akhirnya bisa diselesaikan hingga siap mengikuti kompetisi.
Dari sisi mesin, Honda CBR150R keluaran 2013 tetap dipertahankan sebagai basis. Sejumlah bagian lain dimodifikasi sesuai rancangan nan telah disiapkan. Bagi Ajies, daya tarik utama Pelor Angin bukan terletak pada kapabilitas mesin, melainkan keseluruhan konsep dan kualitas pengerjaannya.
Persaingan di Kustomfest 2026 pun terbilang ketat. Ajies mengawasi banyak peserta membawa motor Harley-Davidson dan kendaraan berkapasitas mesin besar, sebagian besar di atas 500 cc.
Di tengah persaingan tersebut, Pelor Angin datang dengan mesin 150 cc. Perbedaan kapabilitas itu tidak membuatnya kehilangan daya tarik di hadapan juri. Motor tersebut justru bisa meraih penghargaan Best in Show di tengah kekuasaan kendaraan berkapasitas mesin besar.
Penghargaan itu menjadi kebanggaan tersendiri bagi Ajies, terlebih lantaran Kustomfest merupakan kejuaraan nan baru pertama kali diikutinya. Pengalaman tersebut menunjukkan bahwa kreativitas, karakter desain, dan perincian pengerjaan turut berkedudukan besar dalam kejuaraan modifikasi.
Perjalanan panjang sejak 2018 akhirnya berbuah pengakuan. Motor nan sempat tersendat persoalan biaya itu sekarang menjadi bukti bahwa keterbatasan modal tidak selalu mengakhiri sebuah gagasan. Ketekunan, kerja bersama, dan support nan tepat dapat menjadi jalan untuk mewujudkannya.
Ajies pun berambisi Pelor Angin dapat melangkah lebih jauh. Dia berencana membawa motor tersebut ke Jepang pada Desember mendatang, meski realisasinya tetap memerlukan dukungan. (fik/zul)

50 menit yang lalu
2








English (US) ·
Indonesian (ID) ·