DKP Hidupkan Kembali Jejak Pemikiran M. Tabrani

12 jam yang lalu 3
DKP(KM/IST) NYEKAR: Perwakilan Dewan Kesenian Pamekasan (DKP) saat melakukan kunjungan ke makam M. Tabrani di Jakarta beberapa waktu lalu.

KABAR MADURA | Ziarah makam tidak sekadar menjadi tradisi untuk mengenang orang nan telah meninggal dunia. Lebih dari itu, kunjungan menjadi pengingat untuk mendoakan sekaligus merawat ingatan terhadap sosok nan telah berpulang dan jasa nan ditinggalkannya.

Filosofi tersebut menjadi bagian dari aktivitas kunjungan nan dilakukan perwakilan Dewan Kesenian Pamekasan (DKP) ke makam M. Tabrani di Tanah Kusir, Jakarta, pada 10 Oktober 2026. Kegiatan itu bertepatan dengan hari kelahiran M. Tabrani, tokoh asal Pamekasan nan dikenal sebagai penggagas penggunaan nama bahasa Indonesia sebagai bahasa ibu.

Ketua DKP Arief Wibisono mengatakan, kunjungan tersebut dimaknai sebagai haul untuk mengenang sekaligus mendoakan M. Tabrani, tokoh nan telah berjasa bagi bangsa Indonesia.

Menurutnya, mengingat kembali sosok nan telah meninggal bumi merupakan bagian dari upaya menjaga hubungan jiwa dengan para pendahulu. Terlebih, M. Tabrani mempunyai peran krusial dalam perjalanan sejarah bahasa Indonesia.

“Dengan mengingat beliau kembali, kita wajib saling mendoakan. Apalagi, nan meninggal itu merupakan tokoh nan mempunyai inisiatif terhadap sebuah peradaban,” terangnya, Selasa (13/10/2026).

Selain kunjungan makam, laki-laki nan berkawan disapa Ayek itu menjelaskan, DKP juga menggelar tawasul di area Monumen Arek Lancor pada hari nan sama. Kegiatan tersebut menjadi bagian dari ikhtiar untuk mendoakan sekaligus mengenang jasa M. Tabrani dari tanah kelahirannya.

Rangkaian aktivitas itu juga berangkaian dengan rencana DKP menggelar Sarasehan Budaya bertema “Dari M. Tabrani untuk Indonesia”. Melalui aktivitas tersebut, DKP mau mengangkat kembali sosok M. Tabrani agar pemikiran dan kontribusinya tidak sekadar menjadi catatan sejarah, tetapi tetap dikenal dan dimaknai oleh generasi masa kini.

Ayek menegaskan, upaya merawat warisan budaya tidak cukup hanya dengan mendokumentasikan sejarah. Lebih dari itu, generasi sekarang perlu memahami dan merasakan kebanggaan terhadap warisan budaya nan telah dibangun para pendahulu.

“Peradaban ini bukan sebatas arsip, tapi gimana generasi ini merasakan sebuah kebanggaan budaya masa lampau hingga sekarang,” tutupnya. (nur/zul)

Iklan Madura United

Selengkapnya
google.com, pub-8604827097413925, DIRECT, f08c47fec0942fa0