KABAR MADURA | Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Universitas Trunodjoyo Madura (UTM) bekerja sama dengan Dinas Pendidikan (Disdik) Bangkalan menggelar pengarahan teknis (bimtek) pembelajaran digital berbasis augmented reality (AR) dan virtual reality (VR), Senin (12/10/2026).
Kegiatan ini bermaksud meningkatkan keahlian pembimbing dalam mengembangkan media pembelajaran nan inovatif dan sesuai dengan perkembangan teknologi. Melalui training tersebut, para pembimbing tidak hanya diperkenalkan pada teknologi digital, tetapi juga dibekali keahlian dasar untuk membikin media pembelajaran berbasis AR.
Wakil Dekan III FKIP UTM, Wanda Ramansyah, mengatakan bahwa training tersebut merupakan corak kerjasama perguruan tinggi dengan pemerintah daerah. Kegiatan ini sekaligus menjadi bagian dari penyelenggaraan Tri Dharma Perguruan Tinggi, khususnya dalam bagian pengabdian kepada masyarakat.
Menurut Wanda, AR dan VR merupakan bagian dari tren pengembangan media pembelajaran nan terus berkembang di dunia. Namun, pemanfaatan kedua teknologi tersebut di Indonesia, khususnya dalam aktivitas belajar mengajar, dinilai tetap belum optimal.
“Harapan kami, guru-guru di Bangkalan mulai sekarang bisa menerapkan pembelajaran berbasis digital. Jangan sampai siswa justru lebih canggih daripada gurunya,” ujarnya, Selasa (12/10/2026).
Dia menjelaskan, teknologi AR memungkinkan materi pelajaran disajikan secara lebih interaktif. Dengan menggunakan telepon seluler, siswa dapat memindai objek alias penanda tertentu untuk menampilkan beragam materi pendukung, mulai dari animasi, teks penjelasan, suara, hingga video nan berangkaian dengan pelajaran.
Wanda menyebut, teknologi AR sebenarnya sudah dikenal masyarakat melalui permainan Pokemon Go. Meski demikian, pemanfaatan teknologi serupa untuk mendukung proses pembelajaran di sekolah dinilai tetap belum maksimal.
Padahal, teknologi itu membuka kesempatan bagi pembimbing untuk mengubah penyampaian materi nan selama ini dilakukan secara konvensional menjadi lebih visual dan interaktif. Dengan begitu, siswa diharapkan dapat memperoleh pengalaman belajar nan lebih menarik.
“Anak-anak sudah berkawan dengan gadget, tetapi penggunaannya sering hanya sebatas membuka Google. Sekarang, kami mau menunjukkan bahwa gadget juga bisa digunakan untuk mengakses materi pelajaran nan dilengkapi animasi, teks, dan video,” jelasnya.
Meski menawarkan pengalaman belajar nan lebih menarik, Wanda menegaskan bahwa efektivitas media pembelajaran tetap perlu diukur. Menurut dia, penggunaan teknologi bukan sekadar mengikuti tren, melainkan kudu mempertimbangkan efektivitas, efisiensi, dan daya tariknya bagi siswa.
Dalam training tersebut, para peserta memulai pembelajaran dari tahap dasar. Wanda mengungkapkan, sejumlah pembimbing awalnya belum mengenal perangkat maupun aplikasi nan digunakan. Namun, setelah mendapatkan pendampingan, mereka mulai memahami langkah kerja teknologi tersebut.
Dia berharap, pengetahuan dasar nan diperoleh melalui bimtek dapat dikembangkan secara berdikari oleh para guru. Kreativitas pendidik menjadi aspek krusial agar teknologi nan diperkenalkan tidak berakhir sebagai materi pelatihan, tetapi betul-betul diterapkan dalam aktivitas belajar mengajar.
Selain menggelar pelatihan, FKIP UTM juga membuka kesempatan pendampingan bagi pembimbing nan mau mengikuti kejuaraan alias mengembangkan penemuan pembelajaran. Para pembimbing dapat datang ke kampus untuk berdiskusi, berganti gagasan, serta memperoleh pengarahan dalam menyiapkan produk dan penemuan pendidikan.
Wanda menambahkan, aktivitas tersebut diharapkan memberikan akibat lebih luas terhadap peningkatan kompetensi pembimbing di Bangkalan. Dia menilai, pendidik perlu terus belajar dan beradaptasi dengan perkembangan teknologi serta karakter peserta didik.
“Kami mau guru-guru di Bangkalan menjadi pembimbing nan modern, inovatif, dan terus belajar mengikuti perkembangan zaman,” pungkasnya. (fik/zul)

13 jam yang lalu
3








English (US) ·
Indonesian (ID) ·