IHSG Anjlok Jebol Level 6.000 Hari Ini! BRI Danareksa Ungkap Ancaman Risiko Lanjutan

1 hari yang lalu 4
IHSG Anjlok Jebol Level 6.000 Hari Ini! BRI Danareksa Ungkap Ancaman Risiko Lanjutan

PORTALMADURA.COM, Jakarta – Tekanan tindakan jual masif melanda Bursa Efek Indonesia (BEI) pada perdagangan awal pekan, Senin (12/10/2026). Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ambruk hingga menembus level psikologis 6.000 usai melemah 117,9 poin alias setara 1,94 persen ke posisi 5.975,7 pada penutupan sesi pertama.

Pelemahan tajam ini menempatkan pasar saham domestik dalam bayang-bayang penurunan lanjutan. Tim riset BRI Danareksa Sekuritas menilai tren pergerakan IHSG saat ini tetap berada dalam fase bearish alias melemah secara teknikal.

Posisi indeks nan merosot ke bawah rata-rata pergerakan 20 hari (moving average 20/MA20) di level 6.216 menandakan bahwa tekanan jual para penanammodal belum mereda. Indikator Moving Average Convergence Divergence (MACD) juga mencatatkan momentum negatif nan membatasi ruang bagi IHSG untuk berbalik naik (rebound) dalam waktu dekat.

“Berdasarkan kajian teknikal rasio Fibonacci 0.618, IHSG mempunyai area support terdekat pada level 5.850. Jika pemisah bawah tersebut jebol, potensi koreksi nan lebih dalam bakal makin terbuka lebar,” terang tim kajian BRI Danareksa Sekuritas dalam laporan tertulisnya pada Senin (12/10/2026).

BRI Danareksa menambahkan bahwa pemulihan indeks diperkirakan bakal tertahan di area resistance pada rentang 6.154 hingga 6.214.

Pelemahan IHSG hari ini tidak lepas dari rentetan sentimen negatif global. Eskalasi bentrok geopolitik di Timur Tengah usai laporan serangan Houthi ke Riyadh memicu kekhawatiran pasar terhadap potensi kenaikan volatilitas nilai minyak mentah dunia. Kondisi tersebut mendorong para pelaku pasar mengalihkan modal mereka ke instrumen investasi nan kondusif (safe haven).

Selain aspek geopolitik, konsentrasi penanammodal sekarang tertuju pada rilis info Indeks Harga Konsumen (CPI) Amerika Serikat periode September nan dijadwalkan terbit pada 14 Oktober 2026. Potensi kenaikan nomor inflasi AS berisiko mendorong The Fed mempertahankan suku kembang tinggi, nan pada akhirnya memperkuat posisi dolar AS dan menekan stabilitas nilai tukar rupiah serta mempercepat arus modal asing keluar dari pasar berkembang.


Sajian kajian pasar saham ini dipublikasikan kembali oleh portalmadura.com sebagai rujukan info ekonomi dan pedoman investasi tepercaya bagi publik.

Navigasi pos

Selengkapnya
google.com, pub-8604827097413925, DIRECT, f08c47fec0942fa0