Kepala Puskesmas Waru, Kabupaten Pamekasan, dr. Hegi Darmawan saat siniar di Studio I Klik Madura. (ISTIMEWA)
PAMEKASAN || KLIKMADURA – Kesehatan jiwa menjadi aspek krusial nan perlu mendapat perhatian serius, terutama di tengah meningkatnya tekanan kehidupan nan dihadapi masyarakat, termasuk generasi muda.
Kepala Puskesmas Waru, Kabupaten Pamekasan, dr. Hegi Darmawan, mengingatkan pentingnya peran family sebagai pendengar nan baik sekaligus sumber support emosional bagi personil family nan mengalami tekanan mental.
Dalam sesi podcast di instansi Klik Madura, dr. Hegi menjelaskan bahwa kesehatan jiwa tidak sekadar berfaedah terbebas dari gangguan mental. Tetapi, juga mencakup keahlian seseorang dalam mengenali potensi diri dan menghadapi tekanan hidup.
Kemudian, menjalankan aktivitas secara produktif, serta memberikan kontribusi positif bagi lingkungan sekitarnya. Penjelasan tersebut merujuk pada Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2023 tentang Kesehatan.
“Ada 5 parameter utama jiwa itu dapat dikatakan sehat, yaitu, merasa senang dan bahagia, bisa menyesuaikan diri alias beradaptasi dengan masalah kehidupan sehari-hari, bisa menerima kelebihan serta kekurangan diri sendiri, bisa melakukan perihal produktif alias berfaedah (seperti bekerja alias belajar), kemudian memberikan tenaga, pikiran, dan kepedulian kepada family maupun masyarakat,” jelasnya.
Menurut dr. Hegi, masyarakat juga perlu memahami perbedaan antara masalah kesehatan mental dan gangguan jiwa berat nan dalam istilah pelayanan kesehatan dikenal sebagai kondisi orang dengan gangguan jiwa (ODGJ).
Pemahaman tersebut krusial agar masyarakat tidak terburu-buru memberikan stigma kepada seseorang nan sedang mengalami persoalan kesehatan mental.
Ia menjelaskan, seseorang nan mengalami masalah mental dapat tetap mempunyai kesadaran terhadap kondisi dirinya dan bisa menilai kenyataan, termasuk menyadari adanya gangguan nan sedang dialami.
Sementara itu, pada kondisi gangguan jiwa tertentu, seseorang dapat mengalami gangguan dalam menilai realitas nan ditandai dengan indikasi seperti halusinasi.
Yakni, mendengar bisikan alias memandang sesuatu nan tidak nyata, maupun waham berupa kepercayaan nan tidak sesuai dengan realita dan dipertahankan secara kuat.
Lebih lanjut, dr. Hegi menyebut terdapat sejumlah aspek nan dapat memicu masalah kesehatan mental, mulai dari lingkungan family hingga tekanan sosial.
Pola asuh nan terlalu keras, kurangnya kasih sayang, tekanan dari lingkungan sekitar, serta pengaruh media sosial dapat menjadi aspek nan memengaruhi kondisi psikologis seseorang.
Untuk mengelola stres, dia mengimbau masyarakat menerapkan sistem koping positif alias langkah nan sehat dalam menghadapi tekanan. Beberapa langkah nan dapat dilakukan antara lain membangun pola pikir positif.
Kemudian, melakukan teknik relaksasi melalui latihan pernapasan box breathing, serta memperkuat pendekatan spiritual melalui doa, melaksanakan salat, dan memperbanyak membaca Al-Qur’an.
“Dengan itu ada langkah mengelola stres, seperti sistem koping positif, kemudian bisa pikiran itu kudu positif, teknik relaksasi dengan teknis pernapasan boxbreathing, dan pendekatan secara spiritual ialah banyak-banyak berdoa, sholatnya kudu dilaksanakan, perbanyak baca al Quran juga,” terang dr. Hegi.
Selain upaya dari diri sendiri, support family dinilai mempunyai peran krusial dalam membantu proses pemulihan seseorang nan mengalami masalah kesehatan mental.
Keluarga diharapkan bisa menjadi pendengar nan baik, memberikan pendampingan, serta menghadirkan support emosional tanpa menghakimi kondisi nan sedang dialami personil keluarganya.
Di sisi lain, Puskesmas Waru Pamekasan juga mempunyai sejumlah program untuk mendukung pelayanan kesehatan jiwa masyarakat.
Salah satunya adalah program SEJIWA. Yakni, jasa kunjungan langsung alias home visit untuk penanganan kondisi darurat pasien dengan gangguan jiwa nan berisiko membahayakan diri sendiri maupun orang lain, sesuai kebutuhan dan prosedur pelayanan.
Selain itu, tersedia program Cek Kesehatan Gratis (CKG) sebagai bagian dari upaya penemuan awal masalah kesehatan. Puskesmas Waru juga bekerja sama dengan Usaha Kesehatan Sekolah (UKS) di sejumlah sekolah serta Posyandu Integrasi Layanan Primer (ILP) untuk mendukung pemantauan kesehatan bentuk dan mental masyarakat lintas usia.
Dr. Hegi menegaskan, masyarakat tidak semestinya larut dalam pikiran negatif ketika menghadapi persoalan kehidupan. Ia membujuk masyarakat untuk tetap mempunyai harapan, mencari jalan keluar secara sehat, dan tidak ragu mengandalkan support family maupun mendekatkan diri kepada Tuhan.
“Kita tidak boleh mengundang pikiran negatif. Setiap masalah pasti ada jalan keluarnya, dan nan krusial untuk selalu diingat bahwa ada family nan menyayangi serta Allah SWT nan selalu mendampingi,” pungkasnya. (enk/nda)

2 hari yang lalu
4








English (US) ·
Indonesian (ID) ·