Oleh: Ahmad Sahidah, Dosen Hermeneutika Sosial Keagamaan S2 Studi Islam Universitas Nurul Jadid.
Sepulang menjemput anak, saya membeli lauk di warung pecel Lamongan, nan berada di sebelah Toko Basmalah. Istri dan anak mau menyantap goreng ayam untuk makan malam. Saya memilih tempe goreng, lantaran sedang berupaya menjalani hidup vegetarian, meskipun tak mudah. Dalam Animal Ethics, Peter Singer mengulas kewenangan hewan untuk hidup. Saya pun bertanya, sebagai hewan nan berakal, masa hidup kita berjuntai pada nan tidak? Betapa celaru (absurd). Peliknya, manusia merasa lebih tinggi daripada makhluk nan berkokok itu.
Tentu, pilihan ini tidak hendak menggugat selera orang lain. Ia hendak membiasakan kebedaan sebagai perihal lumrah. Bagaimanapun, keseharian manusia dibentuk oleh kebiasaan, dari pemenuhan makan, style hidup, dan apalagi akvitias keagamaan. Tetapi, Henri Lefebvre menyodorkan pertanyaan, apakah kita telah memeriksa apa nan telah kita lakukan sehari-hari?
Pemikir Perancis nan menulis Critique of Everyday Life (1930) tersebut menegaskan bahwa kehidupan itu sebenarnya berjalan dalam setidak detik nan sering dianggap remeh-temeh. Mungkin, lantaran kebutuhan makan dilihat sebagai keperluan biologis nan tak perlu disoal, banyak orang hanya menjalaninya secara sembari lampau dan mungkin tampak serius dengan memamerkan di media sosial. Banyak orang menggunggah pengalaman wisata kuliner. Vlogger bercerita soal kelezatan.
Kita mungkin pernah menonton aktivitas TV nan menghabiskan waktu untuk menceritakan rasa sambal, tekstur daging , dan nilai makanan, tetapi tidak pernah bertanya, kenapa makanan tertentu dianggap wajar, sedangkan nan lain ganjil? Dari mana kebiasaan itu berasal? Nilai apa nan sedang bekerja di sebaliknya?
Lefebvre menyebut bahwa keseharian acapkali menjadi ruang kepanjangan dari ideologi. Apa nan tampak menjadi pilihan pribadi secara bebas sebenarnya dibentuk oleh pasar, tradisi, keluarga, dan apalagi iklan. Sepiring ayam goreng nan dibeli di warung bukan hanya persoalan pemenuhan gizi, tetapi juga sejarah, budaya, relasi ekonomi, industri peternakan, dan langkah kita memandang makhluk hidup lain.
Di titik inilah, Singer berjumpa pendapat Lefebvre. Penulis asal Australia itu menghadirkan moral dengan keahlian merasakan sakit, bukan kepintaran alias bahasa, kenapa seekor hewan perlu dipertimbangkan secara etis. Jika penderitaan itu jelek bagi manusia, kenapa kesakitan nan sama tidak krusial ketika dialami oleh seekor ayam?
Pertanyaan di atas tidak hanya membujuk semua orang berakhir menyantap daging, tetapi juga menyoal langkah berpikir nan menganggap kepentingan manusia selalu lebih berbobot daripada kepentingan makhluk lain hanya lantaran berbeda spesies. Ia menyebut prilaku ini sebagai speciesme. Menariknya, dalam tata nilai pondok kami, Nurul Jadid, etika itu ditujukan tidak hanya untuk Allah, tetapi juga makhluk nan lain (husnul etika ma’allah wa ma’al khalq). Akal budi instrumental inilah nan menyebabkan pemanfaatan pada hewan dan hutan, sehingga alam lenyap keseimbangan.
Berbeda dengan langkah pandang di atas, Lefebvre mengkritik rutinitas manusia. Jika Singer menanyakan moralitas, Lefebvre menyoal keseharian tindakan makan itu sendiri. Selera diproduksi, kebiasaan dipelihara, dan konsumsi dibiasakan dalam aktivitas sehari-hari. Akibatnya, kita merasa bebas memilih, padahal sering kali pilihan itu diarahkan oleh sistem nan jauh lebih besar daripada diri kita. Kita melangkah seperti mesin nan tombolnya ditekan oleh kuasa luar tanpa sadar.
Jadi, memilih tempe di atas bukanlah tindakan sok jago. Ia hanyalah jarak mini dari arus kebiasaan. Di sini, siapa pun bisa bertanya kenapa saya makan seperti ini? Apa akibat etis dari pilihan tersebut? jelas, upaya ini tidak bakal mengubah hidup dalam waktu semalam, tetapi dia dapat mengubah langkah seseorang datang di hadapan sepiring makanan.
Pada akhirnya, dari uraian di atas, kita tidak selalu terpesona pada momen-momen luar biasa, melainkan keberanian untuk memandang nan biasa dengan penglihatan nan baru. Dari Singer, kita tidak hanya memandang vegatarianisme, tetapi juga ekspansi kepekaan moral agar rasa belas iba tidak berkisar pada sesama manusia. Malah, setidaknya kita tidak bakal bersikap pongah lantaran untuk hidup kita tergantung pada sepotong paha ayam.
Barangkali, perubahan besar tidak selalu dimulai dari pidato, revolusi, alias manifesto nan diungkap dengan berapi-api. Ia bisa bermulai dari meja makan, sembari mengunyah seseorang bertanya, “Apakah langkah saya hidup selama ini memang sudah sepatutnya?” Di sini, kita hanya perlu menggemakan kembali norma Sokratik, mari bertanya agar tahu. Untuk menyuburkan logika kritis ini, kita bisa memulai dari dapur kita sendiri.

2 hari yang lalu
11








English (US) ·
Indonesian (ID) ·