Oleh: Ahmad Sahidah, Dosen Program S3 Filsafat Ilmu dan Epistemologi Islam Universitas Nurul Jadid.
Pengakuan pengaruh luar terhadap identitas dapat melonggarkan batas. Betapa lancung menegaskan jati diri seraya menutup diri sementara tanda-tanda nan menempel pada dirinya adalah pinjaman dari banyak sumber. Sebagai tanda nan dianggap terberi, saya telah membawa banyak jejak dari luar, seperti Jawa, Arab, dan Barat.
Bila hendak menjadi asli, kita bisa menjadi diri sendiri seraya berterima terhadap kehadiran orang lain. Kala berkawan dengan seorang Kiri, saya mengerti mereka juga menerima Kanan, apa pun alasannya, karena dalam titik tertentu manusia hendak sama-sama mencari keselamatan dan kesejahteraan. Batas-batas itu bisa melebur dalam kesatuan kepentingan nan alamiah.
Memilih aliran pemikiran itu bisa didorong oleh perasaan, nan ditopang logika budi. Yunani adalah angan saya untuk menemukan pengalaman batin. Seperti dilukiskan oleh Daniel Klein dalam Travels with Epicurus: A Journey to a Greek Island in Search of a Fulfilled Life, menua itu dijalani dengan duduk di tepi pantai sembari menyesap minuman. Tak ada nan perlu diburu.
Tetapi, adakah kita kudu pergi ke negeri para filsuf itu untuk mengalami senja di pantai sembari menyesap minuman? Lebih jauh, adakah rasa selesai itu muncul lantaran capek alias cerah? Dengan keadaan terakhir, justru kita bisa menegaskan bahwa berakhir sejenak dari rutinitas adalah langkah kita untuk berakhir untuk terus mencari.
Sebenarnya pencarian itu mengenai dengan khayalan kita tentang situasi. Di mana pun kita bisa menghadirkan suasana, nan membikin kita tenang dan nyaman. Tantangannya adalah kita sering menenggelamkan diri pada gawai nan menyeret pengguna untuk berselancar ke sana ke mari tanpa tahu kudu mendapatkan pengalaman dan pengetahuan dari mesin elektronik itu.
Itulah kenapa kala menemani kedua anak saya di pantai, kami tidak duduk diam, malah bermain di tepi sembari menunggu ombak menghapus nama nan ditulis oleh anak bungsu. Malah, anak sulung memilih sampah nan diseret air laut ke bibir pantai. Ketenangan dan kenyamanan justru muncul dari tindakan spontan anak-anak nan didasari alam pikiran mereka. Kalaupun kami duduk untuk menghabiskan waktu, apa nan bakal dilakukan? Selain berganti cerita, tentu hubungan ayah dan anak mengandaikan relasi kepengasuhan gimana nilai-nilai ditanamkan melalui aktivitas fisik.
Dengan menuliskan nama, si bungsu telah melewati pengalaman orang tuanya menemukan tanda, ialah bahasa Arab. Demikian pula, si sulung nan peduli terhadap lingkungan lahir dari bacaannya nan berasal dari banyak sumber sehingga pengalaman itu membentuk dirinya sebagai remaja. Namun, tantangannya kami semua bakal larut dengan gawai jika ada di rumah dengan menggulir begitu saja konten nan datang silih berganti tanpa kehadiran aktif pengguna.
Dari pengalaman spontan kami terancam jika kembali ke rumah lantaran kami lebih sering menggeluti tayangan layar, nan menyebabkan terperangkap pada ruang nan tak pernah memberikan kepastian apa nan dicari. Identitas itu seakan-akan tak memberikan arah. Nah, di sinilah, waktu senggang betul-betul menjadi ruang kosong nan disandera oleh ekonomi perhatian, di mana pengguna gawai bakal dipaksa untuk memelototi internet.
Lalu, apakah nan perlu dilakukan seseorang untuk berakhir sejenak dari ketersanderaan pada gawai? Keluarga menjadi bagian dari aktivitas masyarakatnya, seperti peringatan hari besar keagamaan alias nasional. Ketika memperingati Maulid Nabi, kami bisa mengikuti aktivitas tersebut di masjid, nan menjadi ruang silaturahmi dengan tetangga. Masing-masing berjumpa dengan kawan sebaya sehingga ada percakapan nan lebih autentik.
Malah di peringatan hari kemerdekaan, kami sama-sama melangkah kaki dengan penduduk RT untuk mengelilingi kampung nan membikin kami tidak asing dengan tetangga dan lingkungan. Tentu, di akhir aktivitas masing-masing menunggu resah untuk mendapatkan bingkisan pintu (doorprize). Justru, bukan bingkisan nan membikin kami nyaman duduk di lapangan, tetapi satu sama lain saling berganti cerita dan lelucon. Bukankah hidup memang tidak melulu soal benda, tetapi juga jiwa?
Dari sini, totalitas dalam pengertian Lyotard tidak lagi dicari dan perbedaan dinikmati lantaran kita hidup dengan narasi kecil. Keseharian sesederhana aktivitas di pantai, seremoni hari besar di masjid dan hari kebangsaan di jalan kampung. Semua aktivitas ini adalah langkah kita berakhir sejenak untuk tidak terseret pada ekspresi tunggal dalam menganggit perca kehidupan menjadi milik kita sendiri.

5 hari yang lalu
10








English (US) ·
Indonesian (ID) ·