portalmadura.com — Nilai tukar (kurs) rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) kembali mengalami tekanan pada pembukaan perdagangan Selasa pagi (13/10/2026). Berdasarkan info perdagangan pasar spot, rupiah melemah 35 poin alias sekitar 0,20 persen berada di posisi Rp17.948 per dolar AS, semakin mendekati periode pemisah psikologis baru di level Rp17.950 per dolar AS.
Pelemahan nilai tukar rupiah ini melanjutkan tren negatif dari hari sebelumnya, seiring meningkatnya kekhawatiran pelaku pasar dunia terhadap potensi lonjakan inflasi nan dipicu oleh melambungnya nilai komoditas daya dunia.
Harga Minyak Mentah Global Picu Tekanan Sentimen
Analis pasar finansial mencermati bahwa pergerakan mata duit berkembang di area Asia, termasuk rupiah, sangat dipengaruhi oleh lonjakan nilai minyak mentah internasional. Harga minyak mentah jenis Brent nan tetap bertengger di kisaran tinggi US$105,85 per barel terus memberikan tekanan eksternal bagi negara-negara pengimpor energi.
Tingginya nilai minyak bumi kembali memicu kekhawatiran pasar terhadap akibat kenaikan suku kembang referensi bank sentral Amerika Serikat (The Fed) guna menekan laju inflasi. Kondisi ini mendorong penanammodal mengalihkan biaya mereka ke instrumen aset nan dinilai lebih kondusif (safe haven) seperti dolar AS.
Pergerakan Mata Uang Asia dan Prospek Rupiah
Tekanan terhadap mata duit lokal tidak terjadi secara terisolasi. Sejumlah mata duit utama di Asia seperti ringgit Malaysia, dolar Singapura, hingga yuan China juga tercatat mengalami pelemahan terbatas terhadap *greenback* pada perdagangan pagi ini.
Pasar memperkirakan nilai tukar rupiah sepanjang hari ini bakal bergerak bervariasi dalam rentang Rp17.850 hingga Rp17.950 per dolar AS. Para pengamat mengimbau pelaku pasar untuk memantau kebijakan stabilisasi Bank Indonesia serta rilis info ekonomi dunia terkini guna mengantisipasi volatilitas perdagangan lebih lanjut.

1 hari yang lalu
4








English (US) ·
Indonesian (ID) ·