Para personil Panti Budaya Pamekasan latihan pentas wayang kulit Madura di area Vihara Avalokitesvara Pamekasan, Selasa (6/10/2026). (LAILIYATUN NURIYAH/KLIK MADURA).
Kesenian Wayang Kulit di Pamekasan sudah memasuki masa menopause, perlu adanya regenerasi untuk membangkitkan kembali budaya warisan leluhur itu.
LAILIYATUN NURIYAH, Pamekasan, Klik Madura.
****
ANGIN malam berembus cukup kencang ketika bulan menggantung di langit Pamekasan, Selasa (6/10/2026). Di tengah suasana malam nan tenang, bunyi gamelan perlahan memecah kesunyian dari kompleks Vihara Avalokitesvara, Dusun Candi, Desa Polagan, Kecamatan Galis.
Bukan ritual keagamaan nan sedang berlangsung. Di salah satu gedung nan menyerupai pendopo, sejumlah pegiat seni tengah berlatih pementasan wayang kulit Madura.
Di tempat itu, kesenian nan telah hidup ratusan tahun tersebut berupaya tetap bernapas. Di tengah perubahan era dan semakin minimnya minat generasi muda, para pegiatnya berupaya menjaga agar wayang kulit Madura tidak sekadar menjadi cerita masa lalu.
Beberapa perangkat gamelan tertata rapi di perspektif ruangan. Kendang, bonang, kenong, gong, kempul dan sejumlah instrumen lainnya ditutup kain merah agar terlindung dari debu.
Malam itu, alat-alat musik tersebut kembali dimainkan. Tabuhan kendang menjadi penanda dimulainya latihan. Suara gamelan kemudian mengalun, mengiringi para pemain nan sedang mempersiapkan pementasan.
Di antara mereka terdapat Ketua Vihara Avalokitesvara sekaligus Ketua Sanggar Panti Budaya Kosala Mahinda dan seorang dalang berjulukan Dirman.
Kosala menjadi salah satu orang nan terus berupaya mempertahankan keberadaan wayang kulit Madura di Pamekasan. Namun, dia mengakui tantangan terbesar saat ini bukan sekadar menjaga pagelaran tetap berlangsung, melainkan memastikan ada generasi nan mau meneruskannya.
“Di sini anggotanya kebanyakan nan sudah tua. Jarang sekali anak muda nan tertarik pada wayang ini. Kalau dulu banyak, tapi para generasinya itu tidak mau melanjutkan,” kata Kosala.
Menurut Kosala, wayang kulit Madura mempunyai perjalanan sejarah nan panjang. Dahulu, kesenian tersebut dikenal di empat kabupaten di Pulau Madura. Namun, seiring perubahan zaman, keberadaannya semakin menyusut.
Kini, Pamekasan menjadi wilayah nan tetap mempertahankan kesenian wayang kulit Madura tersebut.
Bagi sebagian umat Buddha di Vihara Avalokitesvara, wayang juga mempunyai hubungan dengan tradisi nazar. Ketika seseorang mempunyai rencana setelah melaksanakan sembahyang dan keinginannya terkabul, pementasan wayang dapat digelar sebagai corak pemenuhan nazar.
Lakon nan dimainkan pun tidak selalu sama. Ceritanya disesuaikan dengan niat alias rencana orang nan menggelar pementasan.
“Lakon pementasan disesuaikan dengan niat alias rencana dari pihak nan punya rencana itu,” ujar Kosala.
Namun, wayang bagi Kosala bukan hanya perkara pertunjukan. Di kembali tokoh, perbincangan dan alur cerita, terdapat pesan filosofis mengenai kehidupan manusia.
Ia menyebut wayang berbeda dengan ludruk nan banyak mengangkat cerita rakyat. Wayang mempunyai lapisan cerita nan lebih luas, mulai dari kehidupan manusia, alam hingga dewa.
“Kalau orang sudah mengerti jalan ceritanya, ini kelak kebanyakan tentang kehidupan manusia, alam dan juga dewa. Kalau puncak ceritanya itu tentang Ramayana dan Mahabharata, itu diulas secara mendalam,” terangnya.
Wayang kulit Madura juga mempunyai identitas nan membedakannya dengan pagelaran wayang di wilayah Jawa, seperti Solo dan Jogjakarta.
Bahasa menjadi salah satu karakter nan paling mudah dikenali. Dalang menggunakan bahasa Madura dalam membawakan cerita. Sinden pun menggunakan bahasa Madura saat mengiringi pertunjukan.
Nama dan penyebutan sejumlah tokoh juga mengalami penyesuaian dalam pelafalan masyarakat Madura.
Arjuna, misalnya, mempunyai pelafalan nan berbeda dengan penyebutan dalam tradisi Jawa. Begitu pula Kresna nan dalam masyarakat Madura dikenal dengan pelafalan Kresna. Namun, terdapat sejumlah nama tokoh nan tetap dipertahankan seperti Brotoseno.
“Tokoh wayang itu ada banyak. Kalau mau komplet sampai 800 lebih. Jadi mainnya itu sampai enam jam. Kalau dulu sampai delapan jam, tapi sekarang sudah dipangkas biar tidak terlalu lama,” ungkap Kosala.
Durasi nan panjang itu menunjukkan sungguh luasnya cerita nan dapat dibawakan dalam satu pertunjukan. Namun, di tengah kehidupan masyarakat modern nan semakin cepat, pagelaran selama berjam-jam tentu menjadi tantangan tersendiri.
Kosala menyadari bahwa sebagian besar anak muda Pamekasan apalagi mungkin tidak lagi mengenal keberadaan wayang kulit Madura. Karena itu, dia membuka pintu sanggar selebar-lebarnya bagi siapa saja nan mau belajar.
Bahkan, dia bersedia mendatangkan pembimbing dari luar wilayah andaikan ada anak muda nan betul-betul serius menekuni kesenian tersebut.
“Saya siap mendatangkan pelatihnya. Ini nan mukul kendangnya dari Ngawi. Kemudian kemarin ada anak Sumenep nan tertarik ke wayangnya, saya datangkan kreator wayang dari Solo ke sini untuk mengajarkan anak Sumenep itu sampai tahu,” terang Kosala.
Upaya itu menunjukkan bahwa menjaga wayang tidak cukup hanya dengan menggelar pertunjukan. Pengetahuan tentang musik, pembuatan wayang, karakter tokoh hingga langkah membawakan lakon juga kudu diwariskan.
Sebab, sebuah kesenian bisa saja tetap tercatat sebagai warisan budaya. Namun, tanpa manusia nan mau mempelajari dan memainkannya, warisan tersebut perlahan bisa kehilangan degub kehidupannya.
Kosala berambisi pemerintah ikut mengambil peran lebih besar. Salah satunya dengan memperkenalkan wayang kulit Madura kepada anak-anak sejak bangku sekolah.
Mulai tingkat SD, SMP hingga SMA/SMK, wayang dapat diperkenalkan bukan sekadar sebagai tontonan, tetapi sebagai bagian dari identitas budaya Pamekasan.
“Toh, wayang kulit ini sudah menjadi Warisan Budaya Tak Benda (WBTB) milik Pamekasan. Eman jika sampai generasi muda tidak tahu. Siapa nan bakal meneruskan jika bukan mereka?” pungkasnya.
Malam semakin larut. Tabuhan gamelan tetap terdengar dari kompleks vihara. Di tengah bunyi kendang dan gong itu, para pegiat Panti Budaya sebenarnya sedang memainkan sesuatu nan lebih besar dari sekadar pertunjukan. Mereka sedang menjaga ingatan.
Sebab ketika satu generasi berakhir memainkan wayang, nan mungkin lenyap bukan hanya sebuah kesenian. Bisa jadi, ikut terputus pula satu bagian dari langkah orang Madura memahami kehidupan melalui cerita, simbol dan makulat nan diwariskan dari generasi ke generasi. (nda)

5 hari yang lalu
13









English (US) ·
Indonesian (ID) ·