Motor Kustom Bangkalan Kalahkan Dominasi Harley-Davidson

14 jam yang lalu 1

BANGKALAN, koranmadura.com – Motor kustom Pelor Angin asal Bangkalan, Madura, Jawa Timur, membuktikan bahwa kualitas karya tidak ditentukan oleh besarnya kapabilitas mesin, melainkan produktivitas dan ketelitian pembuatnya.

Ajies Sabara, pemilik sekaligus builder kendaraan dari FR 32 Bangkalan nan menekuni modifikasi sejak 2008, sukses membawa motor berkonsep boardtracker tersebut meraih juara pertama dan penghargaan Best Media Pick di arena Kustomfest.

“Target kami nan sebenarnya ke sana itu hanya ikut, ikut menjadi partisipan. Alhamdulillah, Allah menjawab, diberikan kepercayaan,” ungkap Ajies, sapaan berkawan Ajies Sabara, Selasa, 13 Oktober 2026.

Kemenangan tersebut menjadi spesial lantaran Pelor Angin bisa mematahkan kekuasaan motor bermesin besar, seperti Harley-Davidson, nan disebut telah menguasai arena tersebut selama 15 tahun.

Motor berbasis Honda CBR 150R itu sukses menarik perhatian juri internasional. Ajies memadukan orisinalitas karya dengan filosofi lokal Sapi Kerap sebagai inspirasi desain.

Salah satu daya tarik Pelor Angin terletak pada perincian kayu nan disematkan pada tangki. Pengerjaan nan teliti mencerminkan kesabaran Ajies, nan juga berprofesi sebagai pembimbing sekolah menengah kejuruan (SMK).

“Motor ini saya keliling bumi belum pernah berjumpa dengan motor sedetail ini, se-clean ini, serapi ini, dan terutama di bagian wood alias kayunya,” tutur Ajies, menirukan pujian juri asal Jepang.

Proses pembuatan motor tersebut dimulai sejak 2018. Namun, pengerjaannya sempat terhenti akibat pandemi dan keterbatasan dana. Proyek itu kemudian dilanjutkan dengan support sejumlah pihak.

Bebek Sinjay sebagai sponsor utama turut mendukung keberlanjutan pembuatan Pelor Angin. Kolaborasi tersebut membantu karya lokal Bangkalan menembus kejuaraan bergengsi.

Setelah meraih prestasi di tingkat nasional, Pelor Angin sekarang dipersiapkan menuju panggung internasional. Jika tidak ada kendala, motor tersebut dijadwalkan berangkat ke Jepang pada Desember mendatang untuk mewakili Indonesia.

Pencapaian ini menjadi bukti bahwa keterbatasan kapabilitas mesin bukan penghalang untuk menghasilkan karya berkualitas. Ketekunan dan kesabaran menjadi kunci agar karya lokal mendapat pengakuan di tingkat dunia.

“Jadi tidak hanya memandang karya hanya dari besar kecilnya mesin, tetapi dari kreativitas, ketekunan, dan kesabaran dalam proses pembuatannya,” pungkasnya. (MAHMUD/DIK)

Selengkapnya
google.com, pub-8604827097413925, DIRECT, f08c47fec0942fa0