Prasmanan MBG

2 hari yang lalu 5

Oleh: Rosnindar Prio Eko Rahardjo
Komisioner KPID Jawa Timur, Dosen Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Bahaudin Mudhary Madura, Redaktur Kabar Madura

Ada nan berbeda di SD Negeri Tunjung 2, Kecamatan Burneh, Bangkalan. Saat jam rehat sekolah mendadak riuh oleh pemandangan baru: anak-anak berbanjar rapi membawa piring, menatap penuh semangat ke arah meja saji nan mengepulkan uap hangat.

Ini bukan aktivitas syukuran alias acara sekolah. Ini adalah uji coba Makan Bergizi Gratis (MBG) dengan metode prasmanan!

Selama ini, program MBG nan kita kenal kebanyakan menggunakan sistem kotak alias ompreng. Kurir datang membawa tumpukan boks makanan nan sudah dikemas sejak subuh di dapur umum. Niatnya tentu luar biasa: memastikan gizi anak-anak terpenuhi. Tapi di lapangan, realitas sering berbeda dengan teori.

Makanan nan dimasak jam lima pagi baru dibuka jam sepuluh siang. Akibatnya? Nasi sudah dingin, lauk terkadang benyek akibat uap tertutup rapat, dan tampilannya kurang menggugah selera. Alhasil, banyak anak makan separuh hati, dan sisanya berhujung di tempat sampah. Mubazir!

Eksperimen mini di Burneh ini membuka mata kita. Kepala SD Negeri Tunjung 2 berbareng pengelola setempat mencoba mengubah strategi lewat sistem prasmanan.

Hasilnya? Luar biasa. Antusiasme anak-anak. Makanan nan tersaji bukan lagi sekadar “jatah harian”, melainkan hidangan segar nan tetap mengepul.

Secara psikologis, ada sensasi menyenangkan ketika anak-anak bisa memandang dan mengambil sendiri makanannya.

Aroma sedap masakan nan tetap panas terbukti sukses melecut selera makan mereka. Piring-piring kembali dalam keadaan bersih tanpa sisa.

Jika dibandingkan dengan model kotak konvensional, ibaratnya seperti memilih antara makan langsung di warung versus memesan makanan balut nan terjebak macet di jalan.

Model boks tentu juara dalam perihal kepraktisan logistik. Dapur umum bisa mengirim ribuan porsi ke beragam pelosok sekolah tanpa repot memikirkan tempat penyajian. Namun, harganya mahal pada aspek “rasa” dan “minat makan”. Makanan dingin terbukti menurunkan nafsu makan anak-anak.

Sebaliknya, metode prasmanan menang telak dalam perihal zero-waste dan kepuasan anak. Tidak ada lagi drama lauk tercampur kombinasi akibat guncangan kendaraan di jalanan berlubang. Semua tertata rapi dan menggugah selera.

Tentu saja, prasmanan bukan tanpa tantangan. Jam rehat sekolah kita umumnya sangat singkat. Hanya 20 sampai 30 menit. Jika ratusan anak kudu mengantre mengambil makanan secara bersamaan, butuh rekayasa manajemen waktu nan cerdas agar tidak menggerus jam pelajaran.

Belum lagi soal urusan cuci piring dan menjaga kebersihan ruang kelas.

Apakah sistem ini bakal diterapkan permanen? Pihak pengelola MBG di Burneh itu mengaku tetap menunggu petunjuk resmi dari Badan Gizi Nasional (BGN).

Uji coba itu telah memberikan pelajaran penting: penemuan adalah kunci. Program nasional sehebat MBG tidak boleh sekadar menggugurkan tanggungjawab memberi makan, tetapi kudu memastikan makanan itu disambut dengan senyum dan lahap oleh generasi penerus kita.

Dari perspektif ruang kelas di Burneh, sebuah pesan sederhana tapi telak telah dikirimkan: perut anak-anak bahagia, masa depan bangsa ikut terjaga. (*)

Selengkapnya
google.com, pub-8604827097413925, DIRECT, f08c47fec0942fa0