Sebelum Mengenal Sekolah, Anak Lebih Dulu Belajar dari Ibu

1 hari yang lalu 7

KABAR MADURA | Sebelum mengenal ruang kelas, kitab pelajaran, dan guru, seorang anak lebih dulu belajar dari rumah. Di tempat sederhana inilah dia mulai mengenal banyak hal, mulai dari belajar berbicara, mengenali emosi, memahami kebiasaan, hingga memandang gimana orang lain diperlakukan.

Dalam proses tersebut, ibu sering menjadi sosok nan paling dekat dengan keseharian anak. Bukan hanya melalui nasihat nan disampaikan, tetapi juga lewat perilaku nan dilihat anak setiap hari. Karena itu, ungkapan bahwa ibu adalah madrasah pertama bagi anak tidak sekadar merujuk pada sosok nan mengajarkan pengetahuan, melainkan juga pada peran ibu dalam mengenalkan nilai, sikap, dan kebiasaan sejak dini.

Pada usia dini, anak banyak belajar melalui pengamatan dan pengalaman. Cara ibu berbincang ketika menghadapi masalah, meminta maaf setelah melakukan kesalahan, hingga memperlakukan orang lain menjadi contoh nan diam-diam diperhatikan dan ditiru anak.

Pendidikan di rumah pun tidak selalu kudu berjalan melalui aktivitas belajar dengan buku. Ketika ibu membujuk anak merapikan mainan setelah digunakan, misalnya, anak sedang belajar tentang tanggung jawab. Begitu pula ketika anak dibiasakan mengucapkan terima kasih dan meminta maaf. Melalui kebiasaan sederhana tersebut, anak mulai mengenal pentingnya menghargai orang lain.

Hal serupa bertindak ketika anak melakukan kesalahan. Respons orang tua dapat menjadi bagian krusial dalam proses belajarnya. Teguran nan disampaikan dengan komunikasi nan baik membantu anak memahami kesalahan tanpa membuatnya merasa tidak diterima. Dengan begitu, pengasuhan dan pendidikan dapat melangkah beriringan dalam membentuk perilaku anak.

Selain melalui keteladanan, keterlibatan orang tua juga berkedudukan dalam memperkuat pembelajaran nan diperoleh anak di luar rumah. Orang tua dapat mendukung perkembangan anak melalui beragam aktivitas sederhana, seperti bermain bersama, membacakan buku, dan mendampingi proses belajar. Kegiatan tersebut bukan hanya membantu anak memperoleh pengetahuan, tetapi juga membangun kedekatan emosional antara orang tua dan anak.

Meski demikian, menyebut ibu sebagai madrasah pertama bukan berfaedah seluruh tanggung jawab pendidikan anak hanya berada di pundak ibu. Ayah, keluarga, sekolah, dan lingkungan sosial juga mempunyai peran dalam membentuk perkembangan anak. Pendidikan nan baik justru memerlukan kerja sama antara rumah dan lingkungan tempat anak tumbuh.

Peran family menjadi semakin krusial di tengah kemudahan anak mengakses beragam informasi. Anak tidak hanya belajar dari apa nan dikatakan orang tua, tetapi juga dari apa nan mereka lihat dan alami setiap hari. Kebiasaan nan dibangun di rumah dapat menjadi bekal ketika anak mulai berhadapan dengan lingkungan nan lebih luas, dengan beragam perilaku dan nilai nan belum tentu sama dengan nan dikenalnya selama ini.

Karena itu, menjadi madrasah pertama bukan berfaedah seorang ibu kudu selalu sempurna. Tidak ada orang tua nan setiap hari bisa memberikan contoh tanpa pernah melakukan kesalahan. nan lebih krusial adalah menjadikan rumah sebagai tempat nan kondusif bagi anak untuk belajar, bertanya, mencoba perihal baru, dan memperbaiki kesalahan tanpa takut kehilangan kasih sayang.

Sebab, pendidikan pertama seorang anak tidak selalu datang dalam corak pelajaran tertulis. Ia tumbuh melalui percakapan di meja makan, kebiasaan mini sebelum tidur, langkah family menghadapi masalah, hingga sikap nan setiap hari diperlihatkan oleh orang-orang terdekatnya.

Sebelum belajar menghadapi bumi nan lebih luas, seorang anak terlebih dulu mengenal bumi mini berjulukan rumah. Dari sanalah dia mulai memahami kehidupan, dan di dalam proses itu, sosok ibu sering menjadi salah satu pembimbing pertama nan paling dekat sekaligus paling lama dikenalnya. (ina)

Selengkapnya
google.com, pub-8604827097413925, DIRECT, f08c47fec0942fa0