UTM Dampingi Warga Lestarikan Tari Topeng Patenteng, Ritual Sakral Meminta Hujan di Bangkalan

4 hari yang lalu 9

Sejumlah pemeran topeng bersiap sebelum penampilan. (MUHARI AS / KLIKMADURA)

BANGKALAN || KLIKMADURA – Di tengah ancaman kekeringan saat musim kemarau, masyarakat Desa Patenteng, Kecamatan Modung, Kabupaten Bangkalan, tetap menjaga tradisi leluhur melalui Tari Topeng Patenteng.

Kesenian tradisional nan dulu menjadi bagian dari ritual meminta hujan kepada Tuhan tersebut sekarang mendapat pendampingan dari pengajar dan mahasiswa Universitas Trunojoyo Madura (UTM) agar tidak tergerus zaman.

Pendampingan itu dilaksanakan melalui program pengabdian kepada masyarakat selama satu semester alias enam bulan. Program tersebut menjadi bagian dari upaya merawat Warisan Budaya Tak Benda (WBTB) sekaligus menghidupkan kembali kesenian lokal nan mulai ditinggalkan generasi muda.

Bagi masyarakat setempat, Tari Topeng Patenteng bukan sekadar pagelaran seni. Di kembali aktivitas para penari dan iringan musik tradisional, tersimpan nilai sejarah, spiritualitas, serta kearifan lokal nan diwariskan secara turun-temurun.

Munir, salah satu pihak nan terlibat dalam pendampingan, menjelaskan bahwa Tari Topeng Patenteng mempunyai karakter dan struktur aktivitas nan berbeda pada setiap tokohnya. Tarian tersebut melibatkan lima penari dengan karakter nan telah ditentukan.

“Jadi ada Panji Lakek (laki-laki) dan Panji Binek (perempuan), butho, dan sepasang punakawan. Semuanya itu mempunyai struktur tarian masing-masing. Itu nan saat ini sedang kami jaga agar tarian ini mempunyai karakter dan tidak asal menari,” ucapnya, Jumat (9/10/2026).

Selain mempunyai karakter penari nan khas, Tari Topeng Patenteng diiringi musik tradisional Bangkalan nan dikenal sebagai musik dhuk-dhuk. Iringan tersebut menjadi bagian krusial dalam membangun suasana pagelaran sekaligus mempertahankan identitas kesenian setempat.

Berakar pada Ritual Meminta Hujan

Tari Topeng Patenteng mempunyai hubungan erat dengan tradisi masyarakat dalam menghadapi musim kemarau. Pada masa lalu, tarian ini digelar sebagai bagian dari ritual memohon hujan kepada Tuhan ketika sumber air mulai berkurang.

Munir menuturkan, pengalaman dalam dua kali pagelaran membuatnya semakin merasakan kuatnya hubungan masyarakat dengan tradisi tersebut. Ia menyebut kedua pagelaran itu berjalan berbarengan dengan turunnya hujan deras.

“Kami dua kali melakukan pagelaran Topeng Patenteng selalu hujan deras. Mungkin orang nan menciptakan dulu bertirakat kepada Allah meminta hujan sehingga munajatnya dikabulkan,” tambahnya.

Bagi masyarakat nan mewarisi tradisi ini, ritual tersebut bukan semata-mata tentang pagelaran tari, melainkan juga corak ikhtiar spiritual dan ungkapan angan agar masyarakat memperoleh kecukupan air.

Sejarawan Hidrochin Sabarudin menjelaskan, pada era dulu Tari Topeng Patenteng dipentaskan di tepian sumber mata air ketika musim kemarau. Prosesi ritualnya juga melibatkan pengambilan air dari dua sumber nan kemudian dipertemukan.

“Jadi era dulu itu dalam Tari Topeng Patenteng tidak hanya diiringi musik dhuk-dhuk, tetapi juga ada prosesi pengambilan air dari dua sumber dan dikawinkan. Harapannya agar air tetap banyak dan tidak mengering saat kemarau,” jelasnya.

Menurut Hidrochin, tradisi tersebut memperlihatkan gimana masyarakat setempat memaknai sumber air sebagai bagian krusial dari keberlangsungan kehidupan. Ritual nan diwariskan para leluhur itu sekaligus merekam hubungan antara kebudayaan, lingkungan, dan kepercayaan masyarakat.

Lebih dari itu, Tari Topeng Patenteng juga disebut mempunyai kegunaan sebagai media syiar Islam. Hidrochin menyampaikan bahwa Pangeran Arya Kusuma nan berasal dari Sampang turut memanfaatkan kesenian tersebut sebagai sarana penyebaran aliran Islam.

UTM Dorong Regenerasi dan Pelestarian Budaya

Ketua Pelaksana Program Inovasi Seni Nusantara BIMA Kemendiktisaintek 2026, Parrisca Indra Perdana, mengapresiasi antusiasme masyarakat dalam menjaga Tari Topeng Patenteng.

Menurutnya, pelestarian kesenian tradisional tidak cukup hanya dilakukan melalui pagelaran, tetapi juga kudu disertai upaya mengenalkan sejarah dan makna di kembali setiap unsur pertunjukan.

“Tari Patenteng ini tidak hanya sebagai ritual tarian di desa saja, tetapi berakibat ke depannya semakin dikenal, semakin lestari, tidak berakhir di penampilan hari ini saja, tetapi bisa mencoba untuk belajar sejarahnya, ceritanya, topengnya, kenapa ritualnya seperti itu. Sehingga orang-orang sekitar bisa mengerti sekaligus ikut ambil bagian dalam menjaga budaya lokal,” ungkap Parrisca, akademisi sekaligus pembina UKM Seni Nanggala.

Menurutnya, pemahaman terhadap sejarah dan filosofi kesenian menjadi modal krusial untuk memastikan tradisi tersebut tetap hidup di tengah perubahan zaman.

Dengan demikian, generasi muda tidak hanya mengenal Tari Topeng Patenteng sebagai tontonan, tetapi juga memahami nilai budaya nan terkandung di dalamnya.

Salah satu penduduk Desa Patenteng, Muhammad Hosen, mengatakan Tari Topeng Patenteng hingga sekarang tetap dipentaskan oleh masyarakat setempat. Menurut dia, pagelaran tersebut biasanya digelar sebanyak tiga kali pada akhir musim kemarau.

Hosen juga menyimpan topeng original nan diwariskan secara turun-temurun dari neneknya. Selain menjadi penjaga barang peninggalan leluhur, dia pernah berkedudukan sebagai penabuh musik dhuk-dhuk nan mengiringi pagelaran tersebut.

Keberadaan topeng original dan pengalaman penduduk nan tetap mengenal tradisi ini menjadi bagian krusial dalam upaya mendokumentasikan sekaligus meneruskan pengetahuan budaya kepada generasi berikutnya.

Dukungan terhadap pelestarian kesenian itu juga datang dari Dekan Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Budaya Universitas Trunojoyo Madura, Bangun Sentosa. Dalam aktivitas tersebut, dia datang dan memberikan support berupa perlengkapan Tari Topeng Patenteng, termasuk topeng dan busana tari.

Bangun berambisi program pengabdian kepada masyarakat tersebut dapat memotivasi penduduk untuk terus merawat kesenian peninggalan leluhur. Menurutnya, pelestarian budaya merupakan corak kecintaan terhadap wilayah dan identitas masyarakat tempat tradisi itu tumbuh.

“Pengabdian kepada masyarakat ini diharapkan bisa memberikan motivasi agar masyarakat Desa Patenteng terus menjaga nilai kebudayaan dan kesenian nan ditinggalkan oleh nenek moyangnya. Hal ini bagian dari menjaga kecintaan terhadap tanah di mana kita dilahirkan,” ungkapnya.

Ia meyakini setiap kesenian dan kebudayaan nan diwariskan para leluhur mengandung nilai-nilai nan dapat menjadi pedoman dalam kehidupan sehari-hari.

Melalui pendampingan selama enam bulan, UTM berbareng masyarakat diharapkan dapat memperkuat keberlanjutan Tari Topeng Patenteng, mulai dari pemahaman sejarah, penguasaan gerak, pelestarian topeng, hingga regenerasi pelaku seni.

Upaya tersebut menjadi krusial agar kesenian tradisional Bangkalan ini tidak sekadar memperkuat sebagai peninggalan masa lalu, tetapi tetap hidup sebagai identitas budaya masyarakat Desa Patenteng dan dikenal oleh generasi mendatang. (mhr/nda)

Selengkapnya
google.com, pub-8604827097413925, DIRECT, f08c47fec0942fa0