Dari Hobi Jadi Cuan, Layang-Layang Batik Karya Syamsul di Pamekasan Laku hingga Rp750 Ribu

57 menit yang lalu 1

KABAR MADURA | Usaha kerajinan layang-layang berdikari nan dikelola oleh Syamsul (37) di Desa Potoan Laok, Kecamatan Palengaan, Pamekasan, menjadi salah satu bukti geliat ekonomi imajinatif berbasis kegemaran dan kearifan lokal. 

Meskipun masa awal berdirinya tidak tercatat secara pasti, Syamsul terus konsisten memproduksi beragam jenis layang-layang setiap musimnya, nan dia ingat sudah sangat lama hingga lupa tahun dia memulai karyanya.

Ketekunannya bukan sekedar melangkah satu hingga dua tahun, namun sudah bertahun tahun lamanya, hingga namanya terkenal dengan seniman layang-layang di desanya tersebut.

“Usaha ini sebenarnya tidak ada nama resminya, ini upaya mandiri. Berdirinya juga tidak bisa diperkirakan pasti tahun berapa, tapi setiap tahun pas musimnya pasti buat layang-layang,” ujarnya, Rabu (14/10/206).

Produk layang-layang buatan Syamsul mempunyai karakter tersendiri dibanding pengerajin lainnya. Ciri unik utama nan diusung adalah penggunaan ornamen dan motif batik pada badan layang-layang (sekak).

Mengenai patokan harga, Syamsul memberikan nilai produknya secara variatif dan elastis tergantung ukuran, kerumitan, serta kelengkapan lampu hias.

“Harganya tergantung permintaan. Layang-layang biasa tanpa lampu paling murah ada nan Rp35.000 sampai Rp50.000. Tapi jika nan ukuran besar dan pakai lampu hias, harganya bisa sampai Rp750.000,” tambahnya.

Perjalanan upaya tersebut bermulai dari kegemaran pribadi Syamsul dalam membikin dan menerbangkan layang-layang.  Seiring berjalannya waktu, hasil karyanya menarik perhatian tetangga dan penduduk sekitar hingga berdatangan pesanan.

Pemasaran nan dilakukan Syamsul terbilang alami, ialah bertumpu pada rekomendasi antarwarga dari desa ke desa.

“Usaha ini lancar dari berita orang ke orang. Diberitahukan dari desa ke desa, sampai akhirnya orang datang sendiri ke rumah untuk memesan,” lanjutnya.

Dalam pembuatan rangka layang-layang, Syamsul memanfaatkan bahan baku bambu pilihan. Proses perakitan dilakukan secara manual dengan alat-alat tajam seperti pisau raut untuk memastikan keseimbangan rangka saat diterbangkan.

“Prosesnya diiris dan diraut memakai pisau sampai seimbang. Bahan utamanya pakai bambu. Untuk kapabilitas produksi tidak bisa dihitung pasti lantaran tergantung banyaknya pesanan nan masuk,” jelasnya.

Tantangan utama nan kerap dihadapi Syamsul adalah tingginya pemisah waktu (deadline) dari pemesan nan menginginkan pesanan selesai dalam waktu singkat. Untuk menjaga kepercayaan pelanggan, Syamsul mengutamakan kerapian hasil karya serta komunikasi nan jujur mengenai perkiraan waktu pengerjaan.

Sebagai kreator kerajinan mandiri, Syamsul berambisi ada perhatian dan support modal dari pemerintah maupun dinas mengenai guna pengembangan usahanya.

“Karena ini upaya mandiri, harapannya jika ada program support dari pemerintah bisa dibantu untuk tambahan modal. Paling tidak untuk beli stok bahan baku seperti kertas, plastik, dan perlengkapan lainnya,” pungkasnya. (fit/waw)

Selengkapnya
google.com, pub-8604827097413925, DIRECT, f08c47fec0942fa0